Imajinasi vs. realita


"Fantasy and reality often overlap-Walt Disney"

Gue sadar ini salah. Gue sadar juga ini nggak baik. Tapi gak ada orang yang dapat ngubah mindset gue dalam hal ini.
Gue lahir dengan ajaran semua perasaan bisa terkontrol oleh otak, pakai otak dan hati dengan bijaksana. Yup, semuanya seperti itu. Jadi, gue akan dengan mudah -ya bisa dibilang kadang sukar- mengubah sudut pandang gue kepada orang-orang. Misal, gue suka sama orang ini, gue akan bilang pada diri gue sendiri bahwa gue gak suka sama dia, gue katakan hal itu berulang-ulang dalam otak, gue cari berbagai macam cara untuk mengalihkan perhatian gue dan otak gue, dan voila gue menguasai diri gue sendiri seperti yang gue mau. Karena seperti yang diajarkan...cinta itu ilusi hati, kita bisa kontrol hati kita,

Tapi kadang menyedihkan kalo sudah bertabrakan dengan imajinasi. Imajinasi gue nggak terlalu muluk, tapi jauh dari realita. Gue yang tumbuh dengan kalimat 'nggak ada hal yang nggak mampu dilakukan, kita akan terbiasa, lalu kita bisa' selalu berambisius untuk meraih sesuatu walaupun gue sebenernya nggak seambisius itu, gue akan merendahkan diri karena kadang gue malu dengan imajinasi gue. Jika orang mengatakan gue nggak bisa, otak gue selalu bereaksi 'tunggu dan lihat' selalu itu sambil berucap 'iya sih ya' tapi kadang itu menyakitkan, selalu malahan, dalam tubuh gue seperti ada dua orang yang saling mendominasi dan nggak ada yang mau mengalah. Gue harap Tuhan buat rencana yang baik adanya untuk gue. Gue tau ini salah, tapi ini membuat gue kecanduan. Gue kecanduan akan sakit hati saat orang bilang gue nggak bisa, rasanya menyenangkan saat sakit hati dengan kepala gue memikirkan semua rencana-rencana kedepan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar