Kau bilang

"Dewi, I'm afraid. I'm in doubt, I don't know what to do…"

Kau bilang begitu di dalam mimpiku tadi malam. Wajahmu pancarkan sinar kusam, kau takut dan bingung, lebih-lebih aku. Seperti biasa kau datang padaku bertanya apa pun yang ingin kau tanya. Kali ini lidahku kelu, aku tak pula tau apa jawaban dari semua pertanyaan seputar hal itu. Masa depanmu ada di suatu gedung tinggi bertingkat berisika banyak orang yang ingin atau terpaksa menyesal ilmu. Kau ingin bisa duduk disana, pelajari apa yang memang kau minati, aku pun juga begitu. Tapi aku juga bingung, aku khawatir akan diriku, akan dirimu, akan kita dan akan kita semua. Lagi-lagi aku hanya terdiam menungguku menjawab. Kau tau jika aku hanya menatapmu dengan pandangan seperti itu, artinya tak ada jawaban untukmu. Tapi seperti biasa juga aku tak ingin kau pergi dengan tangan kosong dan tanpa jawaban, maka aku katakan "Kau tau? Tuhan itu memang ahli dalam segala bidang pelajaran. Kau tau, seleksi masuk ke suatu tempat itu berdasarkan sebuah hitungan matematika yang sering disebut-sebut sebagai peluang. Tuhan bekerja dibantu oleh para malaikatnya untuk menghitung peluang kita manusia. Semua cara dilakukan-Nya. Kita semua terseleksi berdasarkan keinginan, waktu, umur, usaha, perbuatan baik, doa, dan dosa. Semua itu menjadi salah satu cara mencari peluang banyaknya orang yang diterima sebuah seleksi serta menentukan siapa yang masuk. Bukan kah dengan begitu Tuhan hebat? Jangan takut, apa pun yang Tuhan beri, jalankan dengan baik dan tulus, niscaya kau akan dapat menguasainya." Setelah aku berkata demikian, kau menatapku dalam-dalam, dan senyummu mulai mengembang. Kau lambaikan tangan dan mengaggukkan kata terima kasih.

Sebangunnya dari mimpi itu, aku berpikir. Bukankah memang Tuhan ahli dalam berbagai hal? Semua pelajaran yang ada di dunia ini memang tercipta oleh-Nya dan kita, manusia, hanya bertugas menemukan semua itu yang tidak tersedia secara terekspos. Seperti mencari telur paskah yang telah disembunyikan saat para nasrani merayakan Hari Paskah. Mengapa tidak kita kerjakan dan melakukan semua perkerjaan tanpa termakan gengsi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar