Sudah tiga hari lamanya saya memandangi foto-foto hasil jepretan para fotografer ini, dan saya temukan hanya perasaan berbeda setiap melihat foto yang berbeda. Rasa sedih, hilang dan hampa sangatlah yang mendominasi hati saya setiap melihat foto-foto itu, sampai pada akhirnya saya menemukan foto ini.

Lihatlah, ini kau. Gelap, dingin, rumit, sukar, dan penuh dengan misteri. Ketika memandangnya, hati saya lagsung saja bekerja, "Ini dia. Ini cerminan dari padanya. Lihatlah betapa sulit medan panjatannya, betapa dinginnya para pendaki yang berada di puncaknya, betapa gelap hutan yang berada di permukaanya, betapa sepi, sunyi dan penuh dengan cerita dan misteri. Itulah dia, dia yang selama ini menari-nari dalam kepalamu, yang selama ini menghantui dirimu. Semua manusia memiliki cerminan pada alam, sebagaimana alam mencerminkan diri manusia masing-masing. Dan ini dia, saya tak akan salah lagi." Setelah melihatnya lebih lama, saya membayangkan diri saya seorang diri berada di dalam hutan yang dilapisi oleh salju tebal, sendirian tanpa penerangan, tanpa makanan, hanya bajiu hangat yang saya kenakan dan tas yang hanya berisikan tali panjat. Ketika haus, saya akan mencairkan esnya dengan menghisapnya dengan lidah saya yang mulai kelu karena dingin yang menyengat. Betapa pada saat seperti itu, melihat manusia lain adalah sebuah anugrah seperti datangnya seorang malaikat. Dan terbayang dibenak saya, seseorang yang tidak pernah saya lihat, mengulurkan tangan untuk membantu saya berdiri dari tumpukan salju tebal yang dingin, merangkul saya sepanjang pencarian jalan keluar, saya tersesat, yang saya lakukan hanyalah menutup mata dan mengikuti langkah kaki si penolong. Kemudian energi dalam tubuh saya terkuras, saya tak kuat lagi berjalan, saya lelah dan kedinginan, bibir saya biru, hidung saya tak bisa memerah lagi, hanya putih, dan si orang asing ini mendudukan saya diatas sebuah bongkahan batu yang tak tertutup salju, matanya yang biru cerah diantara kegelapan hutan menatap mata saya dalam-dalam, merangkai serpihan-serpihan semangat saya yang tercecer di dasar lambung. Mungkin waktunya saya untuk bangkit, berdiri dan menanamkan semangat baru, karena gunung yang saya dakit tidak dapat saya taklukan dengan kedua kaki saya. Saya menyerah daripadamu, kau lebih kuat dari aku dan aku menyadarinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar